Satu pintu masuk ke Darussalam Indonesia. Pilih pintu untuk mulai menjelajah.
Membenahi cara jamaah menemukan, membaca, dan mengikuti apa yang terjadi di masjid — dari kanal yang terpisah-pisah menjadi satu ekosistem yang konsisten dan mudah diakses.
Angka di atas ditampilkan setelah pengukuran kanal berjalan. Kami memilih mengosongkannya daripada menayangkan perkiraan.
Mendata seluruh kanal yang sudah ada, siapa yang mengelola, serta ke mana jamaah sebenarnya mencari informasi.
Menyederhanakan alur, merapikan struktur informasi, dan menyatukan identitas visual di setiap titik sentuh.
Menyerahkan pengelolaan ke tim internal, memasang pengukuran, dan menjadikan perbaikan sebagai rutinitas.
Alur yang lebih pendek, informasi yang mudah ditemukan, dan bahasa yang jelas untuk jamaah dari segala usia.
Satu identitas yang konsisten di setiap kanal, dengan ritme unggahan yang bisa dijaga tim internal.
Perubahan dijalankan bertahap, diukur, lalu dirapikan — bukan sekali jadi lalu ditinggalkan.
Rangkuman sync up 29 Juli 2026 tentang pelibatan anak muda di Masjid Darussalam — lengkap dengan riset pendukung, benchmark empat masjid rujukan, dan usulan peta jalan.
Rapat membahas satu pertanyaan pokok: bagaimana membuat anak muda lebih banyak beraktivitas di Masjid Darussalam — tidak hanya untuk kegiatan keagamaan, tetapi juga di luar itu. Dorongan ini datang dari pengurus masjid sendiri.
Kondisi terkini Rismada dan kegiatan yang sudah berjalan belum terpetakan. Langkah pertama: menggali informasi ini ke Bu Putri.
FGD mengundang berbagai elemen masyarakat, dengan Gen Z — terutama Rismada dan lingkaran Nia — sebagai peserta inti.
Perlu dicari kanal untuk berdiskusi dengan pengurus remaja masjid di Indonesia agar tidak bekerja dalam ruang hampa.
Bukan berhenti sebagai notulen — hasilnya harus jadi bahan kerja yang dipakai.
Anak muda Indonesia tidak sedang kehilangan iman — mereka kehilangan keterikatan pada institusi. Survei Kemenag–Alvara 2025 menunjukkan Gen Z justru unggul dalam literasi Al-Qur'an dan setara-atau-unggul dalam toleransi beragama. Yang menurun adalah partisipasi ritual dan keanggotaan organisasi keagamaan.
Artinya ini persoalan cara masjid bekerja, bukan persoalan akidah anak muda. Cara membingkai masalah ini menentukan seluruh desain programnya — dan jauh lebih mudah dibawa ke pengurus daripada narasi "anak muda sekarang menjauh dari agama".
Pengurus masjid ingin para pemuda lebih banyak beraktivitas di masjid. Penekanannya ada pada kata "aktivitas" — bukan hanya kegiatan keagamaan, tetapi juga kegiatan di luar itu.
Ini titik awal yang penting, karena artinya pengurus sudah menerima gagasan masjid sebagai ruang hidup, bukan semata ruang ibadah. Banyak program serupa di masjid lain justru macet di titik ini.
Rapat mengidentifikasi kekosongan informasi yang harus ditutup lebih dulu:
Tanpa jawaban atas tiga pertanyaan ini, program apa pun berisiko mengulang yang sudah ada atau menabrak inisiatif yang sedang berjalan.
Agar pemuda lebih banyak beraktivitas di masjid, mencakup kegiatan keagamaan maupun non-keagamaan.
| # | Langkah | Keterangan |
|---|---|---|
| 1 | Forum Group Discussion | Mengundang berbagai elemen masyarakat, terutama Gen Z (Rismada, Nia dkk.) |
| 2 | Kanal ke jaringan remaja masjid | Mencari cara berdiskusi dengan pengurus remaja masjid di Indonesia |
| 3 | Hasil FGD jadi dokumen pendukung | Menjadi bahan kerja tim peremajaan masjid |
| 4 | Riset menyeluruh | Praktik pelibatan pemuda di masjid, Indonesia dan internasional |
Arahnya sudah tepat. Satu hal yang perlu ditambahkan berdasarkan riset: FGD harus punya jalur tindak lanjut yang jelas sejak awal.
Pengalaman MUIS Singapura menunjukkan forum konsultasi anak muda hanya berhasil jika ide yang lahir di dalamnya punya mentor, anggaran, dan jalur eksekusi. Tanpa itu, forum justru menghasilkan kekecewaan dan menurunkan kepercayaan — persis yang ingin kita hindari.
Dua masukan tertulis masuk lewat chat. Keduanya berangkat dari pengamatan lapangan, dan keduanya ternyata punya dasar empiris yang kuat.
Isna merekomendasikan empat akun untuk ditelaah: @nurulashri, @terasdakwah, @realmasjid, dan @jogokariyan (dengan catatan jamaahnya bercampur Gen X dan Boomer).
Ciri masjid yang hidup dan aktif dengan anak muda:
Semua yang disebut Isna ternyata menjadi pola berulang di masjid-masjid rujukan. Rinciannya di Bagian 05.
a. Agama harus dijelaskan dengan cara berpikir. Pendekatan "di dalam Al-Qur'an disebutkan begini, maka kita harus mengikuti" tidak cukup, karena tidak menjelaskan kenapa. Agama tanpa logika tidak akan terpatri di otak dan di hati.
b. Media sosial Darussalam harus menjawab "kenapa". Konten diperbarui untuk menjelaskan alasan di balik ajaran, dibantu ilustrasi syar'i yang mudah dipahami. Alasannya sederhana: kalau kutipan Al-Qur'an disampaikan mentah-mentah, banyak orang justru jiper.
c. Berani mengangkat topik sensitif — dengan niat menjelaskan, bukan menyerang. Dibahas dari sisi kenapa sesuatu dilarang, bukan dari sisi serangan. Tujuannya menghilangkan persepsi ketakutan orang terhadap Islam, sambil menegaskan bahwa logika saja tidak cukup dan agama saja juga tidak cukup — keduanya harus berjalan bersama.
d. Konten berbagi sebagai pintu masuk aksi nyata. Usulan konkret: program semacam "Jumat Berbagi". Banyak Gen Z tertarik pada hal-hal yang berdampak; program berbagi setidaknya membuka jalan bagi mereka untuk datang ke masjid — kalaupun awalnya sekadar jadi relawan.
e. Rujukan format yang terbukti bekerja. Konten Ustaz Felix Siauw bersama Raymond Chin, Koyo, dan Verren disebut sebagai contoh bagus: anak muda yang sedang tersesat dijelaskan dan diluruskan secara Islam sekaligus secara logika — dan itulah yang membuat penontonnya banyak.
Tiga prinsip yang diinginkan Gen Z — rumusan paling tajam dari seluruh rapat
- Kamu tidak menghakimi ketika aku sedang salah.
- Kamu bisa menjelaskan secara logis kenapa aku tidak boleh melakukan ini dan itu dalam Islam.
- Kamu tidak memaksa, tidak terburu-buru, dan membiarkan aku memutuskan sendiri.
Ketiganya sebaiknya diperlakukan sebagai prinsip desain resmi program, bukan sekadar catatan rapat. Semuanya sejalan dengan konsep relational authority dalam riset Springtide Research Institute: anak muda merespons otoritas yang memadukan keahlian dengan integritas, keterbukaan, kesediaan menunjukkan kerapuhan, dan kepedulian tulus — bukan otoritas jabatan.
Fenomenanya nyata dan terdokumentasi; "sindrom"-nya tidak diakui secara klinis.
Sisi sebaliknya juga penting: laporan Equi (Inggris, 1.200 anak muda usia 16–24) menemukan 4 dari 5 anak muda beragama justru memakai praktik keagamaan untuk mengelola stres. Agama bisa melukai bila dijalankan dengan cara yang mengontrol, dan menyembuhkan bila dijalankan dengan cara yang aman.
Implikasi untuk Darussalam: jangan jadikan "religious trauma" sebagai tema konten atau jargon program. Perlakukan sebagai prinsip perilaku — pendamping dan pengisi kajian dilatih untuk tidak menghakimi, tidak memaksa, dan tidak memakai ancaman konsekuensi ilahiah sebagai alat kepatuhan.
Empat entitas yang disebut Isna sudah ditelusuri. Berikut yang bisa ditiru — beserta catatan mana yang belum terverifikasi.
| Aspek | Praktik |
|---|---|
| Sensus jamaah (1999) | Remaja masjid mendata dari rumah ke rumah selama hampir tiga bulan: 4 RW, 18 RT, 977 KK, 2.973 jiwa, 816 orang tercatat belum salat |
| Peta dakwah visual | Data diterjemahkan jadi peta kampung bersimbol: Ka'bah (sudah berhaji), unta (sudah berkurban), koin (sudah berzakat) |
| Saldo infak nol rupiah | Dana yang masuk langsung dibelanjakan jadi layanan, tidak diendapkan. Laporan keuangan dipajang terbuka |
| Gerakan Subuh berjamaah | Undangan tercetak menyerupai undangan pernikahan, kopi susu gratis, sandal hilang diganti, hadiah bagi yang konsisten 40 hari |
| Unit usaha | Penginapan syar'i 11 kamar, ATM Beras, angkringan 24 jam, klinik, kredit mikro hingga Rp 2 juta |
| Kurma | "Keluarga Alumni Remaja Masjid" — dibentuk agar anggota tidak putus hubungan setelah dewasa dan berkeluarga |
Sensus sebagai pekerjaan pertama pemuda. Rismada mendapat kerja yang riil, terukur, dan langsung menghasilkan aset strategis bagi masjid.
Kurma. Solusi untuk masalah regenerasi yang hampir selalu dialami organisasi remaja masjid — anggota berhenti aktif begitu dewasa dan berkeluarga.
Ada informasi bahwa Nurul Ashri memakai mekanisme voucher — pengunjung datang, terima voucher, ikut kajian, lalu menukar voucher dengan makanan. Mekanisme ini menarik, tetapi tidak berhasil kami verifikasi dari sumber publik.
Pertumbuhan peserta: 8–10 orang di awal berdiri → ~40 setelah promosi → ~1.500 pada acara Felix Siauw.
| Tingkat | Program |
|---|---|
| Pemula / baru hijrah | Ngaji Teras |
| Menengah | Ngaji Qohwah |
| Lanjut | Ngaji Hadis & Ngaji Bersanad |
Orang baru tidak dilempar ke kajian berat; yang sudah lama tidak bosan. Satu komunitas, tiga pintu masuk.
Masjid fisik nyata, bukan sekadar akun media sosial. Tagline resminya: "Masjidnya Anak Muda".
| Program | Bentuk |
|---|---|
| Kajian SUFI | Bioskop islami — nonton gratis, camilan gratis, refleksi keislaman |
| STARDAYNITE | Diskusi santai soal topik yang sedang tren, pembicara muda, musik akustik, sesi konseling |
| Rest Area | Voice call grup Telegram mingguan membahas isu anak muda dari sudut pandang Islam |
| Bootcamp Marbot | Pelatihan gratis untuk marbot muda dari seluruh Indonesia |
| Pasar Jumat | Lapak mingguan untuk UMKM |
| Khairu Ummah | Sekolah formal gratis TK–SMP |
Tahun berdiri, model pendanaan, dan skala Real Masjid belum terverifikasi dari sumber kuat. Ini model yang paling dekat dengan yang kita tuju — studi banding atau kontak langsung ke takmir sangat dianjurkan.
| Generasi | Indeks literasi Al-Qur'an |
|---|---|
| Gen Z | 56,29 |
| Milenial | 54,06 |
| Gen X | 53,97 |
| Baby Boomer | 50,95 |
Kemenag–Alvara, Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam 2025. 1.208 responden Muslim, 34 provinsi, margin of error 2,89%. Skala 0–100.
Pada indeks toleransi, Gen Z (79,65) praktis setara dengan Gen X (79,67). Yang menurun adalah partisipasi ritual dan keanggotaan organisasi. Diagnosis yang akurat: mereka tidak menjauh dari Islam, mereka menjauh dari institusinya.
Riset PPIM UIN Jakarta 2021 menemukan Milenial dan Gen Z adalah generasi dengan religiusitas ritual terendah, tapi Milenial menunjukkan konservatisme tertinggi. Jarak dari masjid tidak otomatis berarti terbuka pada tafsir yang lebih longgar.
| Sumber | Proporsi |
|---|---|
| Internet / media sosial | 50,89% |
| Buku / teks | 48,57% |
| Televisi | 33,73% |
| Majelis / pengajian | 17,11% |
| Halaqah formal | 2,69% |
PPIM UIN Jakarta, Api dalam Sekam: Keberagamaan Generasi Z. 1.859 responden, 34 provinsi. 96,20% aksesnya lewat perangkat mobile. Responden dapat memilih lebih dari satu sumber.
| Platform | Pangsa 2025 |
|---|---|
| TikTok | 35,17% |
| YouTube | 23,76% |
| 21,58% | |
| 15,94% |
APJII 2025. 8.700 responden, 38 provinsi. TikTok naik dari 18,61% pada 2024; tiga platform lainnya turun.
Rencana konten Instagram yang diusulkan Nia tetap perlu, tetapi TikTok sebaiknya tidak dilewatkan. Instagram penting untuk kredibilitas dan arsip; TikTok untuk jangkauan.
Qahwa Café & Youth Center di ADAMS Center, Virginia (buka Desember 2021): modal awal donasi USD 250.000 khusus untuk program pemuda, dan laba bersih kafe sepenuhnya membiayai program pemuda. Empat fungsi sekaligus: pembiayaan mandiri, ruang bersosialisasi yang halal, pengalaman kerja untuk anak muda, dan pintu masuk bagi masyarakat luar. Sudah direplikasi di California (2023) dan Kansas (2025).
"Expectations are always on us. Now we can just be a Muslim and everyone here is good with that."
Zaytoon Malik, 18 tahun — tentang prinsip kehadiran opsional tanpa kewajiban ikut kajian
NEXTGEN 2025: Singapore Mosque Youth Symposium (13 September 2025) melibatkan lebih dari 200 pemuda Muslim. Tiga fokusnya: identitas, relasi, dan penghidupan. Formatnya bukan ceramah — sembilan sesi breakout, lalu ideation lab tempat peserta merancang solusi sendiri.
Ada jalur implementasi. Ide yang lolos dibimbing mentor, lalu masuk ke program masjid, dibiayai dana khusus (CRL Collaboration Fund, SGD 1 juta untuk tiga tahun).
Forum tanpa jalur eksekusi dan tanpa anggaran hanya menghasilkan kekecewaan. Tentukan sejak awal: berapa ide yang akan dieksekusi, siapa mentornya, dan berapa dananya.
ELM Youth Hub (East London Mosque), diluncurkan 9 Februari 2026: Winter Talent Show menampung 30 peserta dengan hampir 100 pendaftar; The Youth Escape menampung 46 dengan 70 pendaftar.
Rumah ibadah yang punya kegiatan untuk dewasa muda (18–35) di Amerika Serikat: masjid 39% vs gereja/sinagoge 66% (ISPU, The American Mosque 2020). Kabar baiknya: proporsi masjid yang punya kelompok remaja naik dari 32% (2010) menjadi 52% (2020) — kesenjangan ini bisa ditutup dalam satu dekade.
Meski dua dekade pemerintahan berakar Islam menambah investasi besar pada lembaga keagamaan, religiusitas anak muda justru menurun. Survei KONDA: yang mengaku religius turun dari 55% (2008) menjadi 46%.
Agama yang terasa dipaksakan dari atas justru mendorong anak muda menjauh. Ini menguatkan prinsip ketiga Nia — jangan memaksa.
Riset PPIM 2021 menemukan media sosial bekerja sebagai echo chamber yang memperkuat keyakinan yang sudah dipegang, bukan mengubahnya.
Konten media sosial efektif untuk memperdalam orang yang sudah tersentuh dan mengundang orang datang — tetapi kurang efektif sebagai alat tunggal untuk mengubah orang yang jauh. Yang mengubah orang tetap perjumpaan langsung dan relasi.
Posisikan media sosial sebagai pintu, bukan ruangan.
Riset PPIM (2021–2022) menganalisis 1.237 unggahan Instagram dan 180 video YouTube dari lima komunitas hijrah. Formula keberhasilan mereka: figur agama yang terasa dekat dengan anak muda, desain pengajaran interaktif, kosakata kekinian. Ini persis yang diamati Isna dan Nia dari lapangan.
Pertama: metode komunikasi mereka terbukti bekerja dan bisa dipelajari.
Kedua: kekosongan yang mereka isi itu nyata. Kalau masjid tidak menyediakan ruang dan bahasa yang relevan bagi anak muda, ruang itu akan diisi pihak lain — dan tidak selalu dengan orientasi yang kita harapkan.
"Dakwah keagamaan harus kita modifikasi sesuai dengan perkembangan Gen Z supaya Gen Z tidak makin jauh dari agama."
Burhanuddin Muhtadi — KUII VIII, 26 Juli 2026 (disampaikan lisan; laporan lengkap belum terbit)
Disarikan dari kesepakatan rapat, masukan Isna dan Nia, serta temuan riset. Prinsip ini sebaiknya disepakati lebih dulu sebelum program apa pun dirancang — karena setiap keputusan berikutnya akan diuji terhadapnya.
| # | Prinsip | Asal |
|---|---|---|
| 1 | Data dulu, program kemudian. Tidak ada program yang diluncurkan sebelum kita tahu kondisi Rismada dan kebutuhan anak muda sekitar. | Rapat + Jogokariyan |
| 2 | Tidak menghakimi. Anak muda yang sedang salah tetap diterima. | Nia (prinsip 1) |
| 3 | Selalu menjelaskan "kenapa". Ajaran disampaikan dengan alasan, bukan sekadar kutipan. | Nia (prinsip 2) |
| 4 | Tidak memaksa, tidak terburu-buru. Biarkan orang memutuskan sendiri. | Nia (prinsip 3) + peringatan Turki |
| 5 | Layanan dulu, kajian kemudian. Sediakan hal yang mereka butuhkan; kajian mengikuti. | Empat masjid rujukan |
| 6 | Pemuda memegang kendali, bukan menjadi panitia. | Real Masjid + SoundVision |
| 7 | Transparansi sebagai mekanisme kepercayaan. Laporan keuangan dan program terbuka. | Jogokariyan |
Semua tenggat masih perlu disepakati bersama.
Tujuan: menutup kekosongan informasi sebelum apa pun diputuskan. Wawancara Bu Putri; pemetaan sederhana anak muda sekitar masjid (mengadaptasi metode sensus Jogokariyan dalam skala kecil — cukup satu atau dua RW, sekaligus jadi pekerjaan pertama Rismada); inventarisasi aset masjid; membuka kanal ke jaringan remaja masjid.
Keluaran: dokumen kondisi awal (baseline) — siapa anak mudanya, apa yang sudah ada, apa yang bisa dipakai.
Tujuan: anak muda merumuskan sendiri masalah dan solusinya, mengadaptasi format NEXTGEN Singapura. Peserta mencakup anak muda yang tidak aktif di masjid. Bukan ceramah — sesi breakout lalu perancangan solusi. Tiga tema: identitas, relasi, penghidupan. Jalur tindak lanjut ditentukan sejak awal.
Keluaran: dokumen pendukung untuk tim peremajaan masjid.
Prinsip: mulai kecil, murah, dan bisa dievaluasi. Jangan membangun fasilitas dulu. Setiap program diuji minimal tiga kali sebelum dinilai — satu kali gagal bukan alasan menghentikan.
Evaluasi dan pilih program yang dilanjutkan; susun struktur pengelolaan dengan anak muda sebagai pengambil keputusan; kaji kemandirian ekonomi; bentuk mekanisme alumni seperti Kurma; baru pertimbangkan investasi fisik.
| Program uji coba (Fase 2) | Rujukan | Catatan |
|---|---|---|
| Kajian tematik bulanan, pembicara lintas latar | Nurul Ashri | Bukan hanya ustaz. Tema: karier, keuangan, kesehatan mental, lingkungan |
| Ruang nongkrong akhir pekan | ADAMS Center | Cukup buka ruang + wifi + kopi. Kehadiran opsional, tanpa kewajiban ikut kajian |
| Jumat Berbagi | Usulan Nia | Program berbagi berkala, dikelola relawan muda |
| Konten "Kenapa" | Usulan Nia | Seri konten yang menjawab "kenapa" — Instagram dan TikTok |
| Program non-keagamaan | Real Masjid | Nonton bareng, olahraga, kelas keterampilan |
| # | Tindakan | Catatan | Status |
|---|---|---|---|
| 1 | Menghubungi Bu Putri untuk menggali kondisi Rismada, kegiatan berjalan, dan rencana mereka | PIC & tenggat perlu ditetapkan | Belum mulai |
| 2 | Merancang Forum Group Discussion — peserta, format, waktu, tempat | PIC & tenggat perlu ditetapkan | Belum mulai |
| 3 | Mencari kanal untuk berdiskusi dengan pengurus remaja masjid di Indonesia | PIC & tenggat perlu ditetapkan | Belum mulai |
| 4 | Menyusun hasil FGD menjadi dokumen pendukung tim peremajaan masjid | Setelah FGD | Belum mulai |
| 5 | Riset menyeluruh tentang pelibatan pemuda di masjid | Hasil ada di Bagian 05 dan 06 | Selesai |
| 6 | Menelaah akun rujukan: @nurulashri, @terasdakwah, @realmasjid, @jogokariyan | Riset pustaka selesai; telaah konten Instagram belum | Sebagian |
| 7 | Menyepakati tujuh prinsip desain sebelum merancang program | Prinsip menentukan semua keputusan berikutnya | Belum mulai |
| 8 | Menetapkan jalur tindak lanjut FGD sebelum FGD digelar — jumlah ide, mentor, anggaran | Pelajaran MUIS: forum tanpa jalur eksekusi menghasilkan kekecewaan | Belum mulai |
| 9 | Mengundang anak muda yang tidak aktif di masjid ke FGD | Kalau hanya yang aktif, kita hanya mendengar suara yang sudah setuju | Belum mulai |
| 10 | Menambahkan TikTok ke rencana konten, tidak hanya Instagram | TikTok 35,17% dan satu-satunya platform yang tumbuh | Belum mulai |
| 11 | Merancang pemetaan/sensus kecil sebagai pekerjaan pertama Rismada | Meniru Jogokariyan: memberi pemuda pekerjaan riil dan terukur | Belum mulai |
| 12 | Menyiapkan panduan perilaku bagi pendamping dan pengisi kajian | Menerjemahkan tiga prinsip Nia jadi praktik | Belum mulai |
| 13 | Studi banding atau menghubungi langsung takmir Real Masjid | Model paling dekat dengan yang dituju; sebagian data belum terverifikasi | Belum mulai |
| Risiko | Mitigasi |
|---|---|
| FGD berujung wacana tanpa eksekusi | Tetapkan jalur tindak lanjut, mentor, dan anggaran sejak sebelum FGD digelar |
| Program dianggap "proyeknya orang luar" oleh Rismada | Libatkan Rismada sejak Fase 0, bukan sebagai peserta undangan tapi sebagai pemilik pekerjaan |
| Pengurus senior kurang nyaman dengan format non-keagamaan | Tunjukkan bukti dari masjid rujukan; mulai dari format yang paling tidak kontroversial |
| Topik sensitif memicu kegaduhan | Siapkan pengisi yang kompeten dan format tertutup dulu; uji ke lingkaran kecil sebelum jadi konten publik |
| Konten media sosial ramai tapi masjid tetap sepi | Setiap konten punya ajakan bertindak yang mengarah ke pertemuan langsung. Ukur kehadiran, bukan hanya jangkauan |
| Anak muda datang hanya saat ada makanan gratis | Paketkan layanan dengan kajian seperti Nurul Ashri — tapi jangan berlebihan |
| Kehabisan tenaga setelah pengurus inti sibuk atau berkeluarga | Bentuk mekanisme alumni seperti Kurma sejak awal, jangan menunggu masalahnya muncul |
| Hal | Catatan |
|---|---|
| Kondisi terkini Rismada | Menunggu informasi dari Bu Putri |
| Siapa "tim peremajaan masjid" | Struktur, anggota, dan mandatnya belum dijelaskan di catatan rapat |
| Anggaran yang tersedia | Belum dibahas sama sekali |
| Nama penanggung jawab tiap action item | Belum ditetapkan |
| Data Real Masjid | Tahun berdiri, model pendanaan, skala — perlu kontak langsung |
| Jadwal kajian rutin Nurul Ashri | Tidak ditemukan di sumber publik |
| Mekanisme voucher Nurul Ashri | Tidak terverifikasi. Konfirmasi langsung sebelum diadopsi |
| Data kehadiran anak muda di masjid Indonesia | Tidak ada statistik nasional terbuka. Survei kecil sendiri kemungkinan jadi satu-satunya jalan |
Kemenag–Alvara 2025 · PPIM UIN Jakarta (2018, 2021, 2021–2022) · APJII 2025 · Springtide Research Institute 2020 · ISPU The American Mosque 2020 · KONDA 2025 · Equi (Inggris) · Eko Saputra, Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 16 No. 2 (2022) · MUIS NEXTGEN 2025 · ADAMS Center · East London Mosque.
QuranKU 2.0 sedang dalam tahap UAT — versi uji yang bisa langsung dicoba dan dinilai sebelum dirilis. Tiga tautan di bawah adalah pintu masuknya.
Versi 2.0 dibangun dan siap diuji langsung oleh pengguna.
Pengguna mencoba aplikasi dan melaporkan temuan lewat kontak di atas.
Masukan dari UAT ditindaklanjuti sebelum aplikasi dibuka untuk umum.
Tanggal menyusul setelah tahap perbaikan selesai.