LOBI
Selamat datang

Pilih satu pintu untuk memulai.

01 — Ekosistem Digital
Ekosistem Digital

Transformasi dan Akselerasi Ekosistem Digital

Membenahi cara jamaah menemukan, membaca, dan mengikuti apa yang terjadi di masjid — dari kanal yang terpisah-pisah menjadi satu ekosistem yang konsisten dan mudah diakses.

Sedang berjalan 3 tahap
Kanal aktifSitus, media sosial, papan informasi
Jangkauan bulananDitampilkan setelah pengukuran berjalan
Tahap berjalan02dari 3 tahap
Belum tersedia

Angka di atas ditampilkan setelah pengukuran kanal berjalan. Kami memilih mengosongkannya daripada menayangkan perkiraan.


Tahapan

Urutan pengerjaan
  1. 01

    Audit & pemetaan Selesai

    Mendata seluruh kanal yang sudah ada, siapa yang mengelola, serta ke mana jamaah sebenarnya mencari informasi.

  2. 02

    Pembenahan pengalaman Berjalan

    Menyederhanakan alur, merapikan struktur informasi, dan menyatukan identitas visual di setiap titik sentuh.

  3. 03

    Akselerasi & pengukuran Rencana

    Menyerahkan pengelolaan ke tim internal, memasang pengukuran, dan menjadikan perbaikan sebagai rutinitas.

Fokus kerja

Tiga arah
01

Pengalaman Pengguna

Alur yang lebih pendek, informasi yang mudah ditemukan, dan bahasa yang jelas untuk jamaah dari segala usia.

02

Media Digital

Satu identitas yang konsisten di setiap kanal, dengan ritme unggahan yang bisa dijaga tim internal.

03

Akselerasi

Perubahan dijalankan bertahap, diukur, lalu dirapikan — bukan sekali jadi lalu ditinggalkan.

02 — Remaja Masjid
Ringkasan Rapat & Kerangka Strategi

Membuat Masjid Jadi Tempat Anak Muda Ingin Berada

Rangkuman sync up 29 Juli 2026 tentang pelibatan anak muda di Masjid Darussalam — lengkap dengan riset pendukung, benchmark empat masjid rujukan, dan usulan peta jalan.

Tanggal rapat
29 Juli 2026
Peserta
Erik Gunawan Supriatna · Herlia M. Fajarsari (Nia)
Masukan tertulis
Isna · Nia
Disusun
30 Juli 2026

Bagian 01

Ringkasan Eksekutif

Rapat membahas satu pertanyaan pokok: bagaimana membuat anak muda lebih banyak beraktivitas di Masjid Darussalam — tidak hanya untuk kegiatan keagamaan, tetapi juga di luar itu. Dorongan ini datang dari pengurus masjid sendiri.

Empat kesepakatan arah

  1. 01

    Mulai dari data, bukan dari program

    Kondisi terkini Rismada dan kegiatan yang sudah berjalan belum terpetakan. Langkah pertama: menggali informasi ini ke Bu Putri.

  2. 02

    Forum Group Discussion sebagai instrumen utama

    FGD mengundang berbagai elemen masyarakat, dengan Gen Z — terutama Rismada dan lingkaran Nia — sebagai peserta inti.

  3. 03

    Buka jalur ke jaringan remaja masjid nasional

    Perlu dicari kanal untuk berdiskusi dengan pengurus remaja masjid di Indonesia agar tidak bekerja dalam ruang hampa.

  4. 04

    Hasil FGD jadi dokumen pendukung tim peremajaan masjid

    Bukan berhenti sebagai notulen — hasilnya harus jadi bahan kerja yang dipakai.

◆ Temuan yang mengubah cara pandang

Anak muda Indonesia tidak sedang kehilangan iman — mereka kehilangan keterikatan pada institusi. Survei Kemenag–Alvara 2025 menunjukkan Gen Z justru unggul dalam literasi Al-Qur'an dan setara-atau-unggul dalam toleransi beragama. Yang menurun adalah partisipasi ritual dan keanggotaan organisasi keagamaan.

Artinya ini persoalan cara masjid bekerja, bukan persoalan akidah anak muda. Cara membingkai masalah ini menentukan seluruh desain programnya — dan jauh lebih mudah dibawa ke pengurus daripada narasi "anak muda sekarang menjauh dari agama".

Literasi Al-Qur'an Gen Z56,29Tertinggi dari semua generasi — Kemenag–Alvara 2025
Belajar agama dari internet50,89%Hanya 17,11% dari majelis — PPIM UIN Jakarta
Efek satu mentor dewasa24→6%Rasa "hidup tak bermakna" — Springtide 2020
Bagian 02

Konteks dan Alasan Program

Dorongan dari pengurus

Pengurus masjid ingin para pemuda lebih banyak beraktivitas di masjid. Penekanannya ada pada kata "aktivitas" — bukan hanya kegiatan keagamaan, tetapi juga kegiatan di luar itu.

Ini titik awal yang penting, karena artinya pengurus sudah menerima gagasan masjid sebagai ruang hidup, bukan semata ruang ibadah. Banyak program serupa di masjid lain justru macet di titik ini.

Yang belum kita ketahui

Rapat mengidentifikasi kekosongan informasi yang harus ditutup lebih dulu:

  • ?
    Kondisi RismadaBerapa orang, siapa saja, seaktif apa?
    Belum tahu
  • ?
    Kegiatan berjalanApa saja yang sudah dan sedang dijalankan?
    Belum tahu
  • ?
    Rencana merekaApa yang sudah mereka rencanakan ke depan?
    Belum tahu
▲ Narahubung: Bu Putri

Tanpa jawaban atas tiga pertanyaan ini, program apa pun berisiko mengulang yang sudah ada atau menabrak inisiatif yang sedang berjalan.

Bagian 03

Pokok Bahasan dan Kesepakatan

Why — mengapa program ini ada

Agar pemuda lebih banyak beraktivitas di masjid, mencakup kegiatan keagamaan maupun non-keagamaan.

How — bagaimana menjalankannya

#LangkahKeterangan
1Forum Group DiscussionMengundang berbagai elemen masyarakat, terutama Gen Z (Rismada, Nia dkk.)
2Kanal ke jaringan remaja masjidMencari cara berdiskusi dengan pengurus remaja masjid di Indonesia
3Hasil FGD jadi dokumen pendukungMenjadi bahan kerja tim peremajaan masjid
4Riset menyeluruhPraktik pelibatan pemuda di masjid, Indonesia dan internasional
▲ Catatan atas rancangan ini

Arahnya sudah tepat. Satu hal yang perlu ditambahkan berdasarkan riset: FGD harus punya jalur tindak lanjut yang jelas sejak awal.

Pengalaman MUIS Singapura menunjukkan forum konsultasi anak muda hanya berhasil jika ide yang lahir di dalamnya punya mentor, anggaran, dan jalur eksekusi. Tanpa itu, forum justru menghasilkan kekecewaan dan menurunkan kepercayaan — persis yang ingin kita hindari.

Bagian 04

Masukan Peserta

Isna & Nia

Dua masukan tertulis masuk lewat chat. Keduanya berangkat dari pengamatan lapangan, dan keduanya ternyata punya dasar empiris yang kuat.

Belajar dari masjid yang sudah berhasil

Isna merekomendasikan empat akun untuk ditelaah: @nurulashri, @terasdakwah, @realmasjid, dan @jogokariyan (dengan catatan jamaahnya bercampur Gen X dan Boomer).

Ciri masjid yang hidup dan aktif dengan anak muda:

  • Kajian yang kalcer, kekinian, dan relatable dengan kegelisahan anak muda
  • Buka bersama gratis rutin (Senin–Kamis) setelah kajian, dengan pengisi ustaz yang usianya tidak terpaut jauh
  • Instagram yang aktif — memanfaatkan kekuatan media sosial untuk hal positif
  • Dikelola langsung oleh Gen Z, sehingga mereka punya peran nyata dan bisa membuat acara kekinian — bahkan nonton bareng Piala Dunia di masjid — tanpa mengendurkan yang pokok: subuh berjamaah tetap jalan, bahkan sampai tahajud berjamaah
  • Tersedia wifi
✓ Terkonfirmasi riset

Semua yang disebut Isna ternyata menjadi pola berulang di masjid-masjid rujukan. Rinciannya di Bagian 05.

Pendekatan logika dan konten yang menjawab "kenapa"

a. Agama harus dijelaskan dengan cara berpikir. Pendekatan "di dalam Al-Qur'an disebutkan begini, maka kita harus mengikuti" tidak cukup, karena tidak menjelaskan kenapa. Agama tanpa logika tidak akan terpatri di otak dan di hati.

b. Media sosial Darussalam harus menjawab "kenapa". Konten diperbarui untuk menjelaskan alasan di balik ajaran, dibantu ilustrasi syar'i yang mudah dipahami. Alasannya sederhana: kalau kutipan Al-Qur'an disampaikan mentah-mentah, banyak orang justru jiper.

c. Berani mengangkat topik sensitif — dengan niat menjelaskan, bukan menyerang. Dibahas dari sisi kenapa sesuatu dilarang, bukan dari sisi serangan. Tujuannya menghilangkan persepsi ketakutan orang terhadap Islam, sambil menegaskan bahwa logika saja tidak cukup dan agama saja juga tidak cukup — keduanya harus berjalan bersama.

d. Konten berbagi sebagai pintu masuk aksi nyata. Usulan konkret: program semacam "Jumat Berbagi". Banyak Gen Z tertarik pada hal-hal yang berdampak; program berbagi setidaknya membuka jalan bagi mereka untuk datang ke masjid — kalaupun awalnya sekadar jadi relawan.

e. Rujukan format yang terbukti bekerja. Konten Ustaz Felix Siauw bersama Raymond Chin, Koyo, dan Verren disebut sebagai contoh bagus: anak muda yang sedang tersesat dijelaskan dan diluruskan secara Islam sekaligus secara logika — dan itulah yang membuat penontonnya banyak.

  1. Kamu tidak menghakimi ketika aku sedang salah.
  2. Kamu bisa menjelaskan secara logis kenapa aku tidak boleh melakukan ini dan itu dalam Islam.
  3. Kamu tidak memaksa, tidak terburu-buru, dan membiarkan aku memutuskan sendiri.
Tiga prinsip yang diinginkan Gen Z — rumusan paling tajam dari seluruh rapat

Ketiganya sebaiknya diperlakukan sebagai prinsip desain resmi program, bukan sekadar catatan rapat. Semuanya sejalan dengan konsep relational authority dalam riset Springtide Research Institute: anak muda merespons otoritas yang memadukan keahlian dengan integritas, keterbukaan, kesediaan menunjukkan kerapuhan, dan kepedulian tulus — bukan otoritas jabatan.

24%
Tanpa mentor dewasa
6%
Dengan satu mentor dewasa
Proporsi anak muda yang menyatakan "hidup saya tidak pernah terasa bermakna". Springtide Research Institute (2020), survei 10.000+ anak muda usia 13–25. Pada saat yang sama, hanya 8% anak muda menyebut pemuka agama sebagai orang yang bisa mereka datangi.
▲ "Religious trauma" — perlu disajikan dengan presisi

Fenomenanya nyata dan terdokumentasi; "sindrom"-nya tidak diakui secara klinis.

  • Istilah dicetuskan psikolog Marlene Winell pada 2011, merujuk gejala pada orang yang pernah berada di dalam — atau keluar dari — kelompok keagamaan yang otoriter dan mengontrol.
  • "Religious Trauma Syndrome" bukan diagnosis resmi — tidak terdaftar di DSM-5 maupun ICD-10.
  • Para peneliti di bidang ini sendiri menolak label "sindrom". Global Center for Religious Research: "Religious trauma is trauma. Period."
  • Data prevalensi yang beredar (27–33%) berasal dari konteks Amerika berlatar Kristen dan belum pernah direplikasi di konteks Muslim atau Indonesia.

Sisi sebaliknya juga penting: laporan Equi (Inggris, 1.200 anak muda usia 16–24) menemukan 4 dari 5 anak muda beragama justru memakai praktik keagamaan untuk mengelola stres. Agama bisa melukai bila dijalankan dengan cara yang mengontrol, dan menyembuhkan bila dijalankan dengan cara yang aman.

Implikasi untuk Darussalam: jangan jadikan "religious trauma" sebagai tema konten atau jargon program. Perlakukan sebagai prinsip perilaku — pendamping dan pengisi kajian dilatih untuk tidak menghakimi, tidak memaksa, dan tidak memakai ancaman konsekuensi ilahiah sebagai alat kepatuhan.

💬 Bahan diskusi
  • Dari tiga prinsip Nia, mana yang paling sulit dipenuhi oleh cara Darussalam bekerja sekarang?
  • Siapa di lingkungan masjid yang sudah punya modal sebagai pendamping — yang anak muda sudah nyaman mendatanginya?
  • Sejauh mana kita siap membahas topik sensitif secara terbuka, dan di forum seperti apa?
Bagian 05

Benchmark: Empat Masjid Rujukan

Empat entitas yang disebut Isna sudah ditelusuri. Berikut yang bisa ditiru — beserta catatan mana yang belum terverifikasi.

Masjid Jogokariyan — pelajaran tentang data dan kemandirian

Sensus 1999977KK didata oleh remaja masjid
Kampung Ramadan 20263.800Porsi takjil gratis per hari
ATM Beras387KK rawan pangan dilayani
AspekPraktik
Sensus jamaah (1999)Remaja masjid mendata dari rumah ke rumah selama hampir tiga bulan: 4 RW, 18 RT, 977 KK, 2.973 jiwa, 816 orang tercatat belum salat
Peta dakwah visualData diterjemahkan jadi peta kampung bersimbol: Ka'bah (sudah berhaji), unta (sudah berkurban), koin (sudah berzakat)
Saldo infak nol rupiahDana yang masuk langsung dibelanjakan jadi layanan, tidak diendapkan. Laporan keuangan dipajang terbuka
Gerakan Subuh berjamaahUndangan tercetak menyerupai undangan pernikahan, kopi susu gratis, sandal hilang diganti, hadiah bagi yang konsisten 40 hari
Unit usahaPenginapan syar'i 11 kamar, ATM Beras, angkringan 24 jam, klinik, kredit mikro hingga Rp 2 juta
Kurma"Keluarga Alumni Remaja Masjid" — dibentuk agar anggota tidak putus hubungan setelah dewasa dan berkeluarga
◆ Yang paling layak ditiru

Sensus sebagai pekerjaan pertama pemuda. Rismada mendapat kerja yang riil, terukur, dan langsung menghasilkan aset strategis bagi masjid.

Kurma. Solusi untuk masalah regenerasi yang hampir selalu dialami organisasi remaja masjid — anggota berhenti aktif begitu dewasa dan berkeluarga.

Masjid Nurul Ashri Deresan — pelajaran tentang kurasi

  • Badan khusus "KaMus" (Kajian Muslim) yang menjalankan kegiatan secara sistematis, aktif setidaknya sejak 2010 — kajian punya badan sendiri, tidak menumpang struktur takmir yang lambat.
  • Skala buka puasa Ramadan: ~1.000 porsi per hari, total ~25.000 porsi.
  • Kurasi pembicara lintas latar — pembeda utamanya. Ramadan 2026: 29 pembicara termasuk tokoh politik, pegiat lingkungan, ustaz, sampai komika. Temanya meluas: krisis lingkungan, literasi keuangan, kepemimpinan, persiapan pernikahan.
  • Gerakan Sedekah Sayur: ketika harga sayur anjlok, masjid membeli langsung dari petani Magelang dengan harga layak, lalu membagikannya ke warga prasejahtera. Satu program, dua masalah selesai.
▲ Perlu dikonfirmasi ke takmir

Ada informasi bahwa Nurul Ashri memakai mekanisme voucher — pengunjung datang, terima voucher, ikut kajian, lalu menukar voucher dengan makanan. Mekanisme ini menarik, tetapi tidak berhasil kami verifikasi dari sumber publik.

Teras Dakwah — pelajaran tentang menurunkan hambatan psikologis

  • Sengaja tidak memakai ruang masjid. Kegiatan digelar di teras rumah yang didesain seperti kafe — anak muda bertato, anak jalanan, dan pemuda yang sedang hijrah punya hambatan psikologis untuk masuk masjid.
  • Judul kajian memakai bahasa anak muda: "Ganteng-Ganteng Sholehnya Kebangetan", "Generasi Bucin dan Micin", "Pemuda Rebahan".
  • Layanan hijrah yang konkret: penghapusan tato gratis. Melayani kebutuhan nyata orang yang sedang berubah, bukan sekadar menceramahi.
  • Netral mazhab dan lintas etnis — inklusivitas ini disengaja.

Pertumbuhan peserta: 8–10 orang di awal berdiri → ~40 setelah promosi → ~1.500 pada acara Felix Siauw.

TingkatProgram
Pemula / baru hijrahNgaji Teras
MenengahNgaji Qohwah
LanjutNgaji Hadis & Ngaji Bersanad
◆ Segmentasi berjenjang — paling layak ditiru

Orang baru tidak dilempar ke kajian berat; yang sudah lama tidak bosan. Satu komunitas, tiga pintu masuk.

Real Masjid — pelajaran tentang keberanian mendesain ulang

Masjid fisik nyata, bukan sekadar akun media sosial. Tagline resminya: "Masjidnya Anak Muda".

  • "Program dulu, bangunan belakangan." Bangunannya bekas toko, dikonversi jadi masjid dalam tiga hari. Tidak berkubah, tidak bermenara.
  • Nama sengaja tidak berbahasa Arab — keputusan penamaan ini sendiri jadi strategi diferensiasi.
  • Dikelola anak muda usia 19–20 tahun. Bukan "melibatkan pemuda", tapi pemuda memegang kendali.
  • Punya brandbook resmi yang diterapkan konsisten — disiplin merek setingkat ini jarang di masjid.
ProgramBentuk
Kajian SUFIBioskop islami — nonton gratis, camilan gratis, refleksi keislaman
STARDAYNITEDiskusi santai soal topik yang sedang tren, pembicara muda, musik akustik, sesi konseling
Rest AreaVoice call grup Telegram mingguan membahas isu anak muda dari sudut pandang Islam
Bootcamp MarbotPelatihan gratis untuk marbot muda dari seluruh Indonesia
Pasar JumatLapak mingguan untuk UMKM
Khairu UmmahSekolah formal gratis TK–SMP
▲ Data belum lengkap

Tahun berdiri, model pendanaan, dan skala Real Masjid belum terverifikasi dari sumber kuat. Ini model yang paling dekat dengan yang kita tuju — studi banding atau kontak langsung ke takmir sangat dianjurkan.

Enam pola yang berulang

  • 1
    Data mendahului programJogokariyan tidak membuat program apa pun sebelum menyensus 977 KK.
  • 2
    Menghapus hambatan psikologis, bukan menambah volume dakwahTeras Dakwah keluar dari masjid; Real Masjid membuang kubah dan nama Arab. Diagnosis yang sama.
  • 3
    Layanan konkret sebagai pintu masuk, kajian sebagai isiKopi susu subuh, buka puasa gratis, warmindo gratis, penghapusan tato.
  • 4
    Pemuda memegang kendali, bukan jadi panitiaRismada perlu diposisikan seperti ini sejak awal.
  • 5
    Kemandirian ekonomi lewat unit usahaPenginapan, angkringan, air kemasan, pasar UMKM.
  • 6
    Kepercayaan dibangun lewat transparansiSaldo nol rupiah Jogokariyan adalah mekanisme kepercayaan, bukan sekadar prinsip moral.
💬 Bahan diskusi
  • Dari enam pola ini, mana yang paling murah untuk kita coba dalam tiga bulan ke depan?
  • Mana yang paling berat diterima pengurus senior — dan bagaimana cara membingkainya?
  • Apakah kita siap membuka laporan keuangan seperti Jogokariyan?
Bagian 06

Riset: Praktik Global dan Data Tren

Diagnosis yang tepat: krisis institusi, bukan krisis akidah

GenerasiIndeks literasi Al-Qur'an
Gen Z56,29
Milenial54,06
Gen X53,97
Baby Boomer50,95

Kemenag–Alvara, Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam 2025. 1.208 responden Muslim, 34 provinsi, margin of error 2,89%. Skala 0–100.

Pada indeks toleransi, Gen Z (79,65) praktis setara dengan Gen X (79,67). Yang menurun adalah partisipasi ritual dan keanggotaan organisasi. Diagnosis yang akurat: mereka tidak menjauh dari Islam, mereka menjauh dari institusinya.

▲ Paradoks yang perlu dipahami

Riset PPIM UIN Jakarta 2021 menemukan Milenial dan Gen Z adalah generasi dengan religiusitas ritual terendah, tapi Milenial menunjukkan konservatisme tertinggi. Jarak dari masjid tidak otomatis berarti terbuka pada tafsir yang lebih longgar.

Dari mana Gen Z belajar agama

SumberProporsi
Internet / media sosial50,89%
Buku / teks48,57%
Televisi33,73%
Majelis / pengajian17,11%
Halaqah formal2,69%

PPIM UIN Jakarta, Api dalam Sekam: Keberagamaan Generasi Z. 1.859 responden, 34 provinsi. 96,20% aksesnya lewat perangkat mobile. Responden dapat memilih lebih dari satu sumber.

Pergeseran platform

PlatformPangsa 2025
TikTok35,17%
YouTube23,76%
Facebook21,58%
Instagram15,94%

APJII 2025. 8.700 responden, 38 provinsi. TikTok naik dari 18,61% pada 2024; tiga platform lainnya turun.

◆ Implikasi langsung

Rencana konten Instagram yang diusulkan Nia tetap perlu, tetapi TikTok sebaiknya tidak dilewatkan. Instagram penting untuk kredibilitas dan arsip; TikTok untuk jangkauan.

Model "third space" — kafe di dalam masjid

Qahwa Café & Youth Center di ADAMS Center, Virginia (buka Desember 2021): modal awal donasi USD 250.000 khusus untuk program pemuda, dan laba bersih kafe sepenuhnya membiayai program pemuda. Empat fungsi sekaligus: pembiayaan mandiri, ruang bersosialisasi yang halal, pengalaman kerja untuk anak muda, dan pintu masuk bagi masyarakat luar. Sudah direplikasi di California (2023) dan Kansas (2025).

"Expectations are always on us. Now we can just be a Muslim and everyone here is good with that."

Zaytoon Malik, 18 tahun — tentang prinsip kehadiran opsional tanpa kewajiban ikut kajian

Singapura — model konsultasi yang berujung anggaran

NEXTGEN 2025: Singapore Mosque Youth Symposium (13 September 2025) melibatkan lebih dari 200 pemuda Muslim. Tiga fokusnya: identitas, relasi, dan penghidupan. Formatnya bukan ceramah — sembilan sesi breakout, lalu ideation lab tempat peserta merancang solusi sendiri.

◆ Pelajaran terpenting untuk FGD Darussalam

Ada jalur implementasi. Ide yang lolos dibimbing mentor, lalu masuk ke program masjid, dibiayai dana khusus (CRL Collaboration Fund, SGD 1 juta untuk tiga tahun).

Forum tanpa jalur eksekusi dan tanpa anggaran hanya menghasilkan kekecewaan. Tentukan sejak awal: berapa ide yang akan dieksekusi, siapa mentornya, dan berapa dananya.

Permintaan lebih besar dari pasokan

ELM Youth Hub (East London Mosque), diluncurkan 9 Februari 2026: Winter Talent Show menampung 30 peserta dengan hampir 100 pendaftar; The Youth Escape menampung 46 dengan 70 pendaftar.

Data pembanding

Rumah ibadah yang punya kegiatan untuk dewasa muda (18–35) di Amerika Serikat: masjid 39% vs gereja/sinagoge 66% (ISPU, The American Mosque 2020). Kabar baiknya: proporsi masjid yang punya kelompok remaja naik dari 32% (2010) menjadi 52% (2020) — kesenjangan ini bisa ditutup dalam satu dekade.

▲ Peringatan dari Turki

Meski dua dekade pemerintahan berakar Islam menambah investasi besar pada lembaga keagamaan, religiusitas anak muda justru menurun. Survei KONDA: yang mengaku religius turun dari 55% (2008) menjadi 46%.

Agama yang terasa dipaksakan dari atas justru mendorong anak muda menjauh. Ini menguatkan prinsip ketiga Nia — jangan memaksa.

Media sosial: pintu masuk, bukan ruangan

Riset PPIM 2021 menemukan media sosial bekerja sebagai echo chamber yang memperkuat keyakinan yang sudah dipegang, bukan mengubahnya.

◆ Konsekuensinya untuk Darussalam

Konten media sosial efektif untuk memperdalam orang yang sudah tersentuh dan mengundang orang datang — tetapi kurang efektif sebagai alat tunggal untuk mengubah orang yang jauh. Yang mengubah orang tetap perjumpaan langsung dan relasi.

Posisikan media sosial sebagai pintu, bukan ruangan.

Pelajaran dari gerakan hijrah

Riset PPIM (2021–2022) menganalisis 1.237 unggahan Instagram dan 180 video YouTube dari lima komunitas hijrah. Formula keberhasilan mereka: figur agama yang terasa dekat dengan anak muda, desain pengajaran interaktif, kosakata kekinian. Ini persis yang diamati Isna dan Nia dari lapangan.

▲ Dua pelajaran ganda

Pertama: metode komunikasi mereka terbukti bekerja dan bisa dipelajari.

Kedua: kekosongan yang mereka isi itu nyata. Kalau masjid tidak menyediakan ruang dan bahasa yang relevan bagi anak muda, ruang itu akan diisi pihak lain — dan tidak selalu dengan orientasi yang kita harapkan.

"Dakwah keagamaan harus kita modifikasi sesuai dengan perkembangan Gen Z supaya Gen Z tidak makin jauh dari agama."

Burhanuddin Muhtadi — KUII VIII, 26 Juli 2026 (disampaikan lisan; laporan lengkap belum terbit)
Bagian 07

Tujuh Prinsip Desain

Disarikan dari kesepakatan rapat, masukan Isna dan Nia, serta temuan riset. Prinsip ini sebaiknya disepakati lebih dulu sebelum program apa pun dirancang — karena setiap keputusan berikutnya akan diuji terhadapnya.

#PrinsipAsal
1Data dulu, program kemudian. Tidak ada program yang diluncurkan sebelum kita tahu kondisi Rismada dan kebutuhan anak muda sekitar.Rapat + Jogokariyan
2Tidak menghakimi. Anak muda yang sedang salah tetap diterima.Nia (prinsip 1)
3Selalu menjelaskan "kenapa". Ajaran disampaikan dengan alasan, bukan sekadar kutipan.Nia (prinsip 2)
4Tidak memaksa, tidak terburu-buru. Biarkan orang memutuskan sendiri.Nia (prinsip 3) + peringatan Turki
5Layanan dulu, kajian kemudian. Sediakan hal yang mereka butuhkan; kajian mengikuti.Empat masjid rujukan
6Pemuda memegang kendali, bukan menjadi panitia.Real Masjid + SoundVision
7Transparansi sebagai mekanisme kepercayaan. Laporan keuangan dan program terbuka.Jogokariyan
💬 Bahan diskusi
  • Apakah ketujuh prinsip ini bisa kita sepakati apa adanya, atau ada yang perlu diubah?
  • Prinsip mana yang paling mungkin dilanggar tanpa sadar saat program mulai jalan?
Bagian 08

Usulan Peta Jalan

Bahan diskusi, bukan keputusan

Semua tenggat masih perlu disepakati bersama.

  1. 0

    Pemetaan Agustus 2026 · ~4 minggu

    Tujuan: menutup kekosongan informasi sebelum apa pun diputuskan. Wawancara Bu Putri; pemetaan sederhana anak muda sekitar masjid (mengadaptasi metode sensus Jogokariyan dalam skala kecil — cukup satu atau dua RW, sekaligus jadi pekerjaan pertama Rismada); inventarisasi aset masjid; membuka kanal ke jaringan remaja masjid.

    Keluaran: dokumen kondisi awal (baseline) — siapa anak mudanya, apa yang sudah ada, apa yang bisa dipakai.

  2. 1

    Forum Group Discussion September 2026

    Tujuan: anak muda merumuskan sendiri masalah dan solusinya, mengadaptasi format NEXTGEN Singapura. Peserta mencakup anak muda yang tidak aktif di masjid. Bukan ceramah — sesi breakout lalu perancangan solusi. Tiga tema: identitas, relasi, penghidupan. Jalur tindak lanjut ditentukan sejak awal.

    Keluaran: dokumen pendukung untuk tim peremajaan masjid.

  3. 2

    Uji coba program Okt–Des 2026

    Prinsip: mulai kecil, murah, dan bisa dievaluasi. Jangan membangun fasilitas dulu. Setiap program diuji minimal tiga kali sebelum dinilai — satu kali gagal bukan alasan menghentikan.

  4. 3

    Konsolidasi 2027

    Evaluasi dan pilih program yang dilanjutkan; susun struktur pengelolaan dengan anak muda sebagai pengambil keputusan; kaji kemandirian ekonomi; bentuk mekanisme alumni seperti Kurma; baru pertimbangkan investasi fisik.

Program uji coba (Fase 2)RujukanCatatan
Kajian tematik bulanan, pembicara lintas latarNurul AshriBukan hanya ustaz. Tema: karier, keuangan, kesehatan mental, lingkungan
Ruang nongkrong akhir pekanADAMS CenterCukup buka ruang + wifi + kopi. Kehadiran opsional, tanpa kewajiban ikut kajian
Jumat BerbagiUsulan NiaProgram berbagi berkala, dikelola relawan muda
Konten "Kenapa"Usulan NiaSeri konten yang menjawab "kenapa" — Instagram dan TikTok
Program non-keagamaanReal MasjidNonton bareng, olahraga, kelas keterampilan
Bagian 09

Action Items

PIC & tenggat perlu ditetapkan
#TindakanCatatanStatus
1Menghubungi Bu Putri untuk menggali kondisi Rismada, kegiatan berjalan, dan rencana merekaPIC & tenggat perlu ditetapkanBelum mulai
2Merancang Forum Group Discussion — peserta, format, waktu, tempatPIC & tenggat perlu ditetapkanBelum mulai
3Mencari kanal untuk berdiskusi dengan pengurus remaja masjid di IndonesiaPIC & tenggat perlu ditetapkanBelum mulai
4Menyusun hasil FGD menjadi dokumen pendukung tim peremajaan masjidSetelah FGDBelum mulai
5Riset menyeluruh tentang pelibatan pemuda di masjidHasil ada di Bagian 05 dan 06Selesai
6Menelaah akun rujukan: @nurulashri, @terasdakwah, @realmasjid, @jogokariyanRiset pustaka selesai; telaah konten Instagram belumSebagian
7Menyepakati tujuh prinsip desain sebelum merancang programPrinsip menentukan semua keputusan berikutnyaBelum mulai
8Menetapkan jalur tindak lanjut FGD sebelum FGD digelar — jumlah ide, mentor, anggaranPelajaran MUIS: forum tanpa jalur eksekusi menghasilkan kekecewaanBelum mulai
9Mengundang anak muda yang tidak aktif di masjid ke FGDKalau hanya yang aktif, kita hanya mendengar suara yang sudah setujuBelum mulai
10Menambahkan TikTok ke rencana konten, tidak hanya InstagramTikTok 35,17% dan satu-satunya platform yang tumbuhBelum mulai
11Merancang pemetaan/sensus kecil sebagai pekerjaan pertama RismadaMeniru Jogokariyan: memberi pemuda pekerjaan riil dan terukurBelum mulai
12Menyiapkan panduan perilaku bagi pendamping dan pengisi kajianMenerjemahkan tiga prinsip Nia jadi praktikBelum mulai
13Studi banding atau menghubungi langsung takmir Real MasjidModel paling dekat dengan yang dituju; sebagian data belum terverifikasiBelum mulai
Bagian 10

Risiko dan Mitigasi

RisikoMitigasi
FGD berujung wacana tanpa eksekusiTetapkan jalur tindak lanjut, mentor, dan anggaran sejak sebelum FGD digelar
Program dianggap "proyeknya orang luar" oleh RismadaLibatkan Rismada sejak Fase 0, bukan sebagai peserta undangan tapi sebagai pemilik pekerjaan
Pengurus senior kurang nyaman dengan format non-keagamaanTunjukkan bukti dari masjid rujukan; mulai dari format yang paling tidak kontroversial
Topik sensitif memicu kegaduhanSiapkan pengisi yang kompeten dan format tertutup dulu; uji ke lingkaran kecil sebelum jadi konten publik
Konten media sosial ramai tapi masjid tetap sepiSetiap konten punya ajakan bertindak yang mengarah ke pertemuan langsung. Ukur kehadiran, bukan hanya jangkauan
Anak muda datang hanya saat ada makanan gratisPaketkan layanan dengan kajian seperti Nurul Ashri — tapi jangan berlebihan
Kehabisan tenaga setelah pengurus inti sibuk atau berkeluargaBentuk mekanisme alumni seperti Kurma sejak awal, jangan menunggu masalahnya muncul
Bagian 11

Indikator Keberhasilan

Sebaiknya disepakati di FGD
  • 0
    Fase 0–1Dokumen kondisi awal selesai · jumlah peserta FGD dan keragaman latarnya · proporsi peserta yang sebelumnya tidak aktif di masjid
  • 2
    Fase 2Kehadiran berulang — berapa orang datang lebih dari tiga kali · jumlah anak muda yang naik dari peserta → relawan → pengelola · jumlah pendamping aktif
Bagian 12

Hal yang Masih Perlu Dikonfirmasi

HalCatatan
Kondisi terkini RismadaMenunggu informasi dari Bu Putri
Siapa "tim peremajaan masjid"Struktur, anggota, dan mandatnya belum dijelaskan di catatan rapat
Anggaran yang tersediaBelum dibahas sama sekali
Nama penanggung jawab tiap action itemBelum ditetapkan
Data Real MasjidTahun berdiri, model pendanaan, skala — perlu kontak langsung
Jadwal kajian rutin Nurul AshriTidak ditemukan di sumber publik
Mekanisme voucher Nurul AshriTidak terverifikasi. Konfirmasi langsung sebelum diadopsi
Data kehadiran anak muda di masjid IndonesiaTidak ada statistik nasional terbuka. Survei kecil sendiri kemungkinan jadi satu-satunya jalan
Sumber

Kemenag–Alvara 2025 · PPIM UIN Jakarta (2018, 2021, 2021–2022) · APJII 2025 · Springtide Research Institute 2020 · ISPU The American Mosque 2020 · KONDA 2025 · Equi (Inggris) · Eko Saputra, Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 16 No. 2 (2022) · MUIS NEXTGEN 2025 · ADAMS Center · East London Mosque.

03 — Projek Berjalan
Projek / Aktivitas Berjalan

Improvement QuranKU 2.0

QuranKU 2.0 sedang dalam tahap UAT — versi uji yang bisa langsung dicoba dan dinilai sebelum dirilis. Tiga tautan di bawah adalah pintu masuknya.

Tahap UAT Belum rilis publik

Tahapan

Menuju rilis
  1. 01

    Pengembangan Selesai

    Versi 2.0 dibangun dan siap diuji langsung oleh pengguna.

  2. 02

    UAT Berjalan

    Pengguna mencoba aplikasi dan melaporkan temuan lewat kontak di atas.

  3. 03

    Perbaikan temuan Rencana

    Masukan dari UAT ditindaklanjuti sebelum aplikasi dibuka untuk umum.

  4. 04

    Rilis Rencana

    Tanggal menyusul setelah tahap perbaikan selesai.